Kediaman Affandi, Jepang 20xx
"Eh, Aira? Tumben jauh-jauh kesini." tanya Shara heran. Aira hanya tersenyum simpul. "Masuk dulu yuk. Pasti capek kan... Gimana Indonesia? Udah lama gak kesana." ujar Shara sambil masuk, membereskan ruang tamu dan mengambil minuman.
Aira pun masuk dan duduk di sofa. "Indonesia baik-baik saja. Haha kemana saja kau? Tidak ada kabar."
"Aku disini saja. Ya sesekali pergi lah. Tuntutan karir.. Haha" jawab Shara sambil tertawa dan duduk di samping Aira. "Bagaimana dengan mu?"
"Begitulah... Kudengar kau sering ke Singapura ya? Kenapa gak sekalian ke Indonesia?"
Shara terdiam. Lalu menjawab, "Not at all. Aku ingin ke Indonesia. Tapi ya, begitulah." jawab Shara sambil tersenyum. "Jadi, ada perlu apa?"
"Hm, begini. Kau... Sudah menerima undangan itu, kan?" tanya Aira ragu.
Shara tertegun sejenak. Jadi untuk ini dia sampai rela mendatangiku ke Jepang, pikir Shara. "Oke, sebentar. Ikut aku." ajak Shara.
Aira mengikuti Shara menaiki tangga dan memasuki sebuah kamar. "Duduk aja gih di kursi atau kasur. Aku
mau ke kamar mandi dulu sebentar. Tadi kayanya ada tukang paket. Males nerimanya. Biarin aja dia disitu. Hehe.." jelas Shara. Aira pun menaruh tas diatas kasur dan mulai menjelajahi kamar setelah Shara keluar dari kamar.
Aira mengamati kamar tersebut. Kamarnya terbilang luas dan nyaman. Ornamen kayu dan segala teknologi yang ada disitu, membuat kesan modern dan tradisional sekaligus. Catnya berwarna putih-coklat. Banyak foto yang tergantung disana. Saat dilihat, ternyata itu semua foto Shara sesudah dia pindah dari Indonesia. Aira mengernyit heran. Aira pun mendekati meja kerjanya Shara. Banyak buku yang tersusun rapih disana dan sebuah laptop putih yang terbuka. Aira menatap foto yang dipajang di meja tersebut. Shara, Rizky, dan satu orang lagi yang sangat mirip Shara dengan latar Menara Eiffel.
"Ah!" desis Aira ketika tak sengaja menyenggol meja, menyebabkan lacinya terbuka dan sebuah kotak terjatuh, isinya keluar semua. "Undangan?" bisik Aira. Aira pun mengambil undangan itu. "Undangan gua sama Ghifa." Aira menatap heran. Aira pun mengacak isi lacinya. "Foto?" Aira mengambil selembar foto yang terselip dibagian paling dalam laci. Foto Shara dan Ghifa ketika mereka masih di Fatahareya. Mereka saling.berangkulan dan tersenyum. Maksud lu apa sih, Shara?, pikir Aira.
Aira memasukan undangan dan foto itu kedalam laci dan menutupnya kembali. Kali ini, Aira menghampiri kotak yang terjatuh tadi. Dia memungut isinya. "Fotonya banyak sekali. Kenapa tidak dipajang?" pikir Aira. Saat selesai mengumpulkan foto, tinggal satu yang tertinggal. Kalung, sebuah kalung perak berbentuk piano. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Ini kan seperti gelangnya.... Ghifa?" Tiba-tiba dia teringat akan sebuah gelang yang selalu dipakai Ghifa, yang sepertinya tidak pernah lepas dari pergelangannya.
"Oh begitu ya? Baiklah, saya akan atur waktunya untuk bertemu bapak. Mungkin saya akan merevisi sedikit program tersebut. Saat ini saya masih di Jepang." Terdengar suara Shara ditelpon yang sedang menaiki tangga. Aira buru2 membereskan barang2 tadi.
"Aaaargh! Kau pikir Amerika itu dekat!" ujarnya kesal sambil membuka pintu, lalu masuk kedalam kamar. Dia membawa setoples kue mochi.
"Maaf lama. Tadi ke dapur dulu, sekalian mancari berkas yang ditanya klien." ujar Shara meminta maaf pada Aira yang sedang duduk diatas kasur.
"Never mind. Tadi itu klien?"
"Oh ya. Tadi itu salah satu klien. Dia ingin aku ada di New York besok pagi. Tapi, aku tidak yakin bisa on time." jawab Shara acuh tak acuh sambil mengangkat pundaknya.
"Oh.. Sibuk sekali ya.."
"Begitulah, sudah terbiasa." Shara teesenyum. "Oh iya. Tadi kau menanyakan undangan kan? Aku sudah dapat kok... Matte ne.." Shara berjalan ke arah meja, menyimpan toples mochi diatasnya dan membuka laci. Dia mengernyit sebentar, lalu mengambil undangan dengan cepat dan kembali ke Aira.
"Nih! Yang ini kan?" tanya Shara sambil mengulurkan undangan tersebut. Didepannya tertulis, 'Wedding
Invitation, Ghiffari Rahman & Airanda Muthia'.
"Yeah.." Aira mengangguk. Dilihatnya, Shara seperti menyiapkan sesuatu untuk pergi. "Kau mau kemana?" tanyanya.
"Tidak kemana-mana. Hanya siap-siap saja. Lanjut aja gih omongannya." jawab Shara sambil memakai kalung perak piano tersebut. Mata Aira menyipit melihatnya.
"Kau hanya memakai kalung saat pergi ya?"
"Begitulah. Nenek yang menyarankan."
"Hm... Oh ya. Ngomong-ngomong, aku berharap kau datang." ujar Aira dengan tersenyum.
Shara menoleh padanya datar. Dia sudah menebak pertanyaan Aira tadi. "Maaf, aku tidak bisa. Ada urusan penting di Venice." jawabnya cepat.
"Shara, tolonglah. Kalau kau memang tidak bisa, ikutlah ke Indonesia. Temui Ghifa. Dia sedang aneh sekarang." pinta Aira.
"Maaf, ra. Kamu calon istrinya, sebaiknya kamu yang menenangkannya." ujar Shara sambil menarik napas.
"Kau suka sama Ghifa? Kau jatuh cinta pada sahabatmu sendiri kan?" tuduh Aira, masih tetap tersenyum. Tapi senyum nya seperti menyembunyikan sesuatu.
Shara menggeleng. "Tidak. Aku tidak punya hak untuk itu." ujarnya dingin.
"Jujur Shara! Kau membuatnya semakin sulit!" tegur Aira. "Tolong jujur saja. Aku tidak akan marah." pinta Aira. Shara pun akhirnya duduk disamping Aira.
"Kau benar. Aku membuatnya semakin sulit." ucap Shara datar.
"Eh?" Aira kaget.
"Ya, benar. Andaikan aku tidak egois, semuanya menjadi mudah."
"Jadi...?"
"Ya, kau benar. Aku memang jatuh cinta pada sahabatku sendiri, sampai aku menjadi paranoid terhadapnya."
"Ghifa tau?"
Shara mengangguk. "Dia tau semuanya. Tapi, aku lebih memilih untuk mengalah."
"Please, Shara..." pinta Aira, memberi isyarat untuk menjelaskan semuanya.
"Baiklah. Kau tau kan aku seorang mafia besar berdarah campuran?" Aira mengangguk. Shara melanjutkan,
"Saat itu, hanya dia yang mau menerimaku. Jujur saja, aku merasa nyaman dengannya. Dia sahabat yang baik. Dia bisa mengerti segalanya. Dia lebih mengerti aku dibandingkan diriku sendiri. Saat mafia itu berusaha mencariku dan membawaku kembali, dia rela berada disampingku, walau nyawa taruhannya. Sampai akhirnya, dia berusaha menghancurkan pertahanan mafia itu dengan caranya sendiri, dan berhasil. Kemampuannya tidak diragukan lagi. Saat itulah aku menjadi sangat menyukainya, bahkan mencintainya.
"Setelah kasus mafia ku berakhir, aku sangat senang. Aku berpikir bahwa aku dan Ghifa bisa hidup tenang setelah itu. Tapi, aku salah. Akulah yang menghancurkan segalanya, membuatnya semakin rumit. Aku mendengar tentang kau dan Ghifa dari Rizky, selama aku tidak berada di Indonesia. Aku kaget. Dan aku pun melihat hal itu sendiri pada akhirnya.
"Rizky tau bahwa aku jatuh cinta pada Ghifa, makadari itu ia pun menenangkan ku. Karena kebetulan, dia dan kembaranku malah saling cinta -_-. Aku pun mulai menjauhi Ghifa sejak saat itu, untuk menetralkan hati ku. Tapi, I'm lose. Saat Ghifa memanggilku agar kita bisa bicara berdua, aku menamparnya. Itulah pertama kalinya aku menampar seseorang, dan kata Keiko, itu juga pertama kalinya Ghifa ditampar seseorang.
"Dia bingung kenapa aku menjadi aneh akhir-akhir ini. Dia pun bertanya pada Keiko. Dan Keiko memberi isyarat kalau aku menyukainya. Tapi, entah dia mengerti atau tidak. Dia kan lola soal beginian-_- . Hubungan kita pernah membaik. Saat itu, dia pun jujur padaku, kalau dia tertarik pada seorang perempuan bernama Aira. Aku hanya tersenyum dan tertawa getir. Pada saat bertanya tentang diriku, aku tersenyum. Aku menjawab, 'There is a person who I like. He is you are.' Dia menatap ku, lalu aku pergi begitu saja dan... Begitulah." jelas Shara menerawang, datar. Ekspresinya campur aduk.
"Kenapa kau memilih untuk mengalah?"
"Because I know he loves her. I think, if I go to overseas, I can forget him. But, that's wrong. I can't forget him. Dia adalah pangeran ku. Aku tetap belum bisa melupakan itu. Itu sebabnya aku tidak bisa mengunjungi Indonesia. Setiap meeting di Indonesia, aku alihkan ke Singapura.
"In the end, he chose a girl that named 'Airanda Muthia' to be his bride. Walau begitu, aku belum bisa melupakannya. Aku tetap mencintainya. Tapi, aku menghargai keputusannya."
Shara menatap Aira dalam. "I know he loves you. That's why I can't love him. I respect to his decision. That's his and yours. I can't interrupt whether I love him. And then... Please keep to love him. Jangan kecewakan dia. Jaga dia baik-baik." Shara menggenggam tangan Aira dan meremasnya.
"Apakah kau tidak ingin memperbaiki komunikasi mu dengan Ghifa? Aku lihat, dia sepertinya sangat kehilanganmu."
"Kau tau kan, aku ini mafia. Aku takut emosiku tak terkontrol. Aku bisa melakukan apa saja. Aku selalu mempersiapkan senjata disekitar ku. Dan yang penting, aku tidak mau mengacaukan pernikahan orang lain." ujar Shara sambil tersenyum.
"Aku pamit." ujar Aira bangkit dari duduknya.
"Maaf, Aira.." ujar Shara merasa sangat bersalah.
"Tidak, aku yang harusnya minta maaf. Aku tidak tahu perasaan mu. Aku pamit." Mereka pun jalan ke depan.
"Thanks for coming, and... Have a nice trip!"
"Yeah... Okay.." balas Aira dengan senyumnya yang manis.
sedihh tau, kenapa oh..kenapa? tapi kalau kayak gini orang malah jadi greget dan gak gampang ngelupain ceritanya(alur yang baguss), semoga shara mendapat yang terbaik... amiiinnnn
BalasHapus#saya jadi sok-sok,an kayak kritikus jadinya^^
WHOOOOAAAA!!! Arigatou sensei>< *peluk sensei* tapi jujur, aku belum sanggup lanjutinnya. Masih ada di draft tapi belum sanggup buat mencet "publish" haha =))
Hapus