Jumat, 14 Desember 2012

Gloomy Sunday, a full-of-tears day

Inspired by a suicide song, "Gloomy Sunday". Check this..

Sept 20th 20xx, 01.00 am

"Aru, kemana aja lu?" tanya Ara galak. Matanya menyipit, menyelidik.

"Bukan urusanmu." jawab Aru dingin. Dia tidak suka diganggu. Aru pun melangkah masuk, melewati kakaknya begitu saja.

Ara mencengkam lengannya. "Aru! Jawab gua. Apa kau selalu pulang jam segini?" tanya Ara dengan nada serius.

Aru hanya menyeringai dan tersenyum sinis dengan mata menyipit. "Kalau iya, masalah? Liat diri lu sendiri." jawab Aru sinis. Hawa beku disekitar kakak-adik itu semakin terasa. Ara tertegun dan perlahan melonggarkan cengkramannya. Aru pun menghentakan tangan Ara dan berlalu begitu saja.



"Andaikan kau tau, Aru..." gumam Ara. Ara hanya menatap adiknya yang berjalan menuju kamarnya. Ara pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengacak rambutnya sembari berjalan menuju kamarnya.

Di kamarnya, Aru terus menggerutu. "Sialan banget sih Ara! Ngapain pake nongol dirumah segala!" umpat Aru yang lalu meninju tembok kamarnya. Setelah tenaganya terkuras, ia terduduk lemas di atas kasurnya. "Ra, gua tau lu pinter..." gumamnya. Tak lama kemudian, Aru pun terlelap.

-----
"Aru, Aru!" Semua orang meneriakan namanya dengan tampang khawatir, sedangkan yang dipanggil hanya tergeletak tak berdaya diatas sebuah kasur putih. Samar-samar dia melihat wajah orang-orang tersebut, dan... Ara. Ara tampak sangat khawatir.

"Keep survive please, Khairu Anggara." ujar Ara pelan, lalu mengiringinya memasuki sebuah ruangan gelap yang tidak dikenalnya.
-----

"Hah! Mimpi apa gua?!" erang Aru dengan suara serak karena baru bangun. Aru pun menengok jam. 05.00 am. Aru pun berjalan gontai ke arah kamar mandi, mencuci muka, lalu berjalan kearah dapur untuk mengambil minum. Dilihatnya, Ara yang sudah bangun daritadi sedang membuat makanan.

"Hai. Tumben sepagi ini. Mimpi buruk?" sapa Ara.

Aru mengambil segelas air, duduk dikursi meja makan, lalu membalas,"Penting?" Aru membalas dingin, cuek, dan sinis seperti biasa.

Ara meninggalkan masakannya, menghampiri meja makan dan duduk di hadapan Aru. "Ru, gua ini kakak lu. Gua cuma ingin kita damai." ujarnya tenang. Berbeda dengan Aru, Ara memang selalu bisa membawa ketenangan.

"Jangan ikut campur urusan gua. Gua ga akan ikut urusan lu. Selesai. Damai." Hawa disekitar Aru membeku.
Ara hanya tersenyum. "Baiklah." ujarnya singkat. "Tapi, ada satu hal yang perlu lu ketahui. Minumlah ini." Ara menyodorkan sebotol obat tablet.

"Apa ini?" Aru memperhatikan botol itu seksama. Memperhatikan isinya.

"Minum saja. Itu ga masuk kategori obat terlarang. Minum setiap jam 12, atau setiap kau merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhmu." ujar Ara tenang, lalu kembali ke masakannya. "Siap-siap sekolah gih. Makanan biar gua yang siapin."

"Still dawn." ujar Aru singkat, lalu kembali ke kamarnya.

-----
06.00 am

"Perfect!" Aru menatap refleksinya di cermin. Dia memperhatikan dari atas ke bawah. Sebenarnya, Aru terbilang kurus dengan tinggi 170an dan berat badan sedemikian rupa. Hidungnya tajam dengan kulit putih pucat seperti Ara. Hanya saja, wajah Ara terlihat lebih serius dibanding Aru. Ditambah lagi, seragam sekolah Aru yang selalu membuat orang yang udah kece tambah kece, Aru semakin keren. Aru pun merapihkan rambutnya sedikit, lalu mengambil tas dan kekuar kamar. Di meja makan, Ara sudah menunggu dengan stelan kerjanya.

"Duduk. Kita makan." Aru pun duduk di hadapan Ara, dan makan. Ara memasak makanan kesukaannya saat itu, Okonomiyaki. Mereka makan dengan hening.

"Finish! I leave." Suara Aru memecah keheningan mereka. Aru membereskan piringnya, membungkuk pada Ara, lalu pergi. Ara hanya menatap punggung adiknya dalam diam.

"Keep survive, Khairu Anggara." gumamnya.
-----

"Hoi, bos!" sapa sekumpulan murid pada Aru. Aru pun menghampiri dan duduk diantara mereka. Aru menghempaskan tasnya ke sebuah meja paling pojok. Anak-anak tersebut langsung mengerubungi Aru dan melayaninya. Itu adalah anak geng nya. Karena ia adalah Aru, a greet gangster.

"Ada kabar apa?" tanya Aru pada anak buahnya. Seorang dari mereka mengangkat tangan. "Laporan apa?"

"Ada surat ancaman yang dikirimkan ke alamat Dhiar, tetapi ditunjukan untuk kita." ujar Hanif sambil menunjuk Dhiar. Dhiar adalah seorang yang terlihat kalem, jadi seringkali menyelamatkan mereka.

"Siapa pengirimnya?"

"Pengirim tidak menunjukan identitas, hanya meninggalkan pesan, seperti sebuah anagram."

"Anagram? Bagaimana isi suratnya? Dhiar, kau bawa kan?" tanya Aru pada Dhiar. Dhiar mengangguk dan memberikan surat beramplop hitam tersebut pada Aru.

"With a gloomy heart, I'll kill you and your gangster, except the lead, Khairu Anggara. Hm?" Mata Aru menyipit bingung. "Ada yang aneh. Jika ingin mengancam kita, seharusnya surat ini ditujukan padaku dan aku menjadi orang pertama yang diincar untuk dibunuh. Lagipula, bagaimana dia bisa tau nama asliku?"

"Itulah keanehannya bos.."

"Pengirimnya ada disekitar kita." ujar Aru tiba-tiba. Semua anak buahnya kaget.

"Kau yakin?" tanya Hanif.

"Yeah.. No doubt, dia ada disekitar kita. A stalker." jawab Aru dengan serius, sangat meyakinkan.

-----
12.00 pm

"Bos, ayo kita ke atap!"

"Duluan aja!" ujar Aru sambil melambaikan tangannya. Saat baru saja akan keluar kelas, ia teringat pesan kakaknya, "Minum lah setiap jam 12 atau saat kau merasa ada yang aneh dengan tubuh mu."  Aru melirik tasnya ragu. Sebenarnya, ia membawa obat itu. Akhirnya, ia pun memilih untuk mempercayai kakaknya. Ia meminum satu tablet obat itu, baru pergi ke atap. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

"Khairu Anggara, a unique name. Just like his personality." gumam seseorang yang selalu memperhatikannya sedari tadi.

-----
Kepala sekolah berjalan menuju tangga, terburu-buru mencari seseorang. Ketika sampai di tangga, dia pun menemukan seseorang itu. "Aru!" panggil beliau.

Aru pun menoleh."Ya, ada apa Pak?" tanyanya heran.

"Kau mau kemana?"

"Atap."

"Tadi saya bertemu dengan Dokter Nara. Dia menitipkan ini untuk mu." Beliau memberikan sebuah kertas kepada Aru.

"Nara? Narayan?" tanya Aru memastikan.

"Ya, dia mirip dengan mu."ujar beliau yang kemudian berlalu. Aru hanya tersenyum miris. Kemudian Aru kembali menaiki tangga untuk menuju atap.
-----

"Bos!" panggil anak buahnya. Aru menghampiri mereka. "Kemana saja bos?"

"Tadi dicegat kepsek di tangga." jawabnya.

"Dia bilang apa?"

"Nothing important." jawab Aru malas. Aru pun menjauhi kerumunan dan mencari tempat yang pas untuk membaca suratnya Ara.

"Untuk Aru. Temui aku di Rumah Sakit jam 7. Kumohon jangan telat sedikit pun. Ara." Aru pun berpikir sejenak. "Gak biasanya dia nyuruh gua ke Rumah Sakit. Hm, it seems..weird."

"Aru! Coba liat kebawah!" ujar Hanif yang berada kira-kira 2m disampingnya. Aru buru-buru melipat suratnya dan melihat kebawah. Mata Aru pun membesar melihatnya. "Ru, ngapain mereka kesini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Hanif panik.

Aru memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas. "Stay here. I'll be right back, or I'll call you." perintah Aru tenang. Anak buahnya pun diam ditempat, sedangkan Aru berjalan cepat menuju tangga dan menuruninya.

-----

"Sial! Untuk apa mereka datang?!" umpat Aru kesal. Ia terus berjalan cepat menuju gerbang, tidak memperhatikan sekitarnya yang sedang menatapnya aneh. Dia pun sampai di gerbang, di sambut dengan sambutan sinis Tasuku, seseorang yang dikalahkan Aru tahun lalu, ksatria Kansai.

"Ada perlu apa kau kesini?" tanya Aru tenang dan dingin.

"Menepati janji. Aku berjanji akan menemui mu dan mengalahkan mu tahun ini." jawab Tasuku menyeringai sinis, menantang. Wajah oriental itu tampak sangat angkuh dan berkuasa.

"Well, what do you do? Just watch me from there?"tanya Aru tak kalah sinisnya.

"That's not it. Actually, I wanna discuss something."jawab Tasuku serius.

"About what?"tanya Aru menyelidik curiga.

"I'll wait at Lord Café tomorow! Our talk need a lil' privacy. See ya.."jawab Tasuku. Setelah itu, Tasuku pun membungkuk 90°, lalu pergi. Aru menatapnya bingung. Hanif dkk menghampiri Aru.

"Ada apa bos?" tanya Hanif.

"Nothing." jawab Aru singkat, lalu segera berbalik tanpa melirik kawanannya sedikit pun. Ia masih bingung dengan semuanya. Ara dan ksatria Kansai. Ada apa dengan mereka? --a

-----

07.00 pm

Aroma rumah sakit tercium dari segala penjuru. Aru mulai menginjakan kaki didalamnya. Tidak peduli orang-orang yang menatapnya karena penampilannya benar-benar selengean tapi keren, Aru tetap berjalan menuju pusat informasi.

"Oy, maaf." panggil Aru pada salahsatu suster yang sedang fokus pada catatannya.

Suster tersebut mendengus sebentar, kemudian mendongak dengan mata terbelalak. "A-ada yang bisa s-saya b-bantu?" tanya suster itu terbata-bata. Dia terlalu kaget untuk menerima kenyataan bahwa tadi dia mendengus pada malaikat seperti didepannya.

Aru menyipit padanya sebentar. "Saya ingin bertemu dengan Ara. Dimana dia?"

"Ara?" ulang suster itu sambil mengernyitkan dahi.

"Dokter Narayan Anggara." jawab Aru dengan lebih jelas. -c-

1 komentar:

  1. Dan ini bersambung disaat Aru menemui mas Ara =w= what happen in there... //plak

    aku kalau berandal berandal sekolah inget film Crow Zero gitu xD kesukaan anak2 cowok pas sma

    dan aku belum menemukan kaitan ini dengan gloomy sunday sendiri xD mana nih lanjutannyaa huwee.
    lagu lagunya mas sasa lebih ngena dari gloomy sunday ya kalau suicide, lagu ini masih booming dengan mitos mitos sampai sekarang xD

    BalasHapus